Sabtu, 21 Desember 2013

Gus Dur dan ‘cah angon’ dalam tembang ‘Ilir-ilir’



Gus Dur dan ‘cah angon’ dalam tembang ‘Ilir-ilir’
Oleh
Aang Fatihul Islam
(di muat di DUTA MASYARAKAT, 30 Maret 2010)
Belum lama saya melakukan kajian terhadap tembang “Ilir-Ilir”. Tembang ini diciptakan sudah sangat lama, sekitar lima abad silam. Ada beberapa pendapat mengenai pencipta tembang ini. Ada yang menyebut Kanjeng Sunan Ampel dan Sunan Giri. Ada pula yang menyatakan tembang itu buah karya Sunan Kalijogo. Mayoritas lebih cenderung pada Kanjeng Sunan Kalijogo, melihat kedekatannya pada adat dan budaya Jawa.
Tembang ini selalu menarik dikaji karena deretan syair-syairnya menyimpan falsafah kehidupan yang begitu dalam dan luas. Masih terngiang di telinga saya ketika budayawan Emha Ainun Nadjib mencoba mem-break down syair-syair tersebut dalam berbagai sudut pandang. Sebuah upaya yang patut kita apresiasi, mengingat satu tembang tidak cukup ditafsirkan dalam beribu-ribu jilid buku dan berates-ratus tahun.
Ya, beragam sudut pandang bisa dipakai, tergantung dari sudut pandang mana kita menafsirinya, karena makna yang terkandung di dalamnya sangat dalam dan luar biasa, menyimpan falsafah dalam segala ranah kehidupan.
Menariknya ada salah satu bait syair tembang “Ilir-Ilir” yang begitu mengingatkan kita tentang KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Ia adalah tokoh besar dan kharismatik yang menjadi idola banyak orang. Ini ini terlihat ketika Gus Dur meninggal. Saat itu semua corak masyarakat dari berbagai kalangan mengirim doa buat Gus Dur. Mereka merasa sangat kehilangan tokoh yang bisa merangkul semua golongan, tokoh yang bisa diterima semua golongan dan tokoh yang selalu memperjuangkan nilai-nilai pluralisme dan demokrasi.
Walaupun berasal dari kalangan ulama dan kiai, Gus Dur bisa berdialog dan membaur dengan warna pelangi masyarakat. Tokoh besar seperti Gus Dur inilah yang kemudian mengingatkan saya pada sosok “bocah angon” yang tersirat dalam tembang “Ilir-ilir”. Hal ini karena ada banyak kriteria “cah angon” dalam tembang itu yang juga dimiliki Gus Dur. Dan memang Gus Dur adalah salah satu tokoh abad ini yang pantas menyandang gelar “cah angon” tersebut.
Simaklah syairnya yang berbunyi “Cah angon, cah angon, penekno blimbing kuwi”. Dalam bahasa Indonesia, syair itu artinya “Anak gembala, anak gembala, tolong panjatkan pohon blimbing itu”.

Yang menjadi pertanyaan kemudian, mengapa idiom yang dipilih adalah “cah angon” (anak gembala), bukan jenderal, sastrawan, seniman, cendekiawan, budayawan, atau lainnya?
Ini karena seorang pemimpin itu harus mempunyai daya angon, daya menggembala, dan bisa ngemong (mengasuh), memesrai, dan merangkul semua pihak. Tentu saja ia boleh seorang jendral, cendekiawan, ulama, kiai, budayawan, dan sebagainya. Yang terpenting ia memiliki sifat daya angon dan bisa diterima semua kalangan. Cah angon adalah tokoh nasional, bukan tokoh segerombol golongan yang menciptakan determinasi dan keseimbangan sendi kehidupan.
Patut pula kita cermati pilihan kata “penekno blimbing kuwi” dalam tembang tersebut. Mengapa yang dipilih adalah “blimbing”, bukan kata pelem (mangga), rambutan, salak, semangka, dan sebagainya? Jawabnya, karena buah blimbing memiliki sifat dan bentuk yang berbeda dibanding buah lainnya. Buah blimbing berkikir lima yang mencerminkan falsafah sangat tinggi dan terkait erat dengan pluralisme dan demokrasi.
Kikir lima dalam kaca mata Islam dapat diartikan sebagai rukun Islam dan salat lima waktu. Sedangkan dalam konteks negara, kikir lima juga dapat diartikan sebagai Pancasila yang menjadi dasar negara kita. Jadi, seorang pemimpin harus bisa mencapai blimbing. Dalam konteks kenegaraan, ini berarti pemipin harus bisa mengaplikasikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dan berbagai sendi kehidupan untuk mencuci pakaian nasionalisme kita. Dengan demikian, Pancasila tidak hanya dibaca setiap kali ada upacara bendera dan kebangsaan, tetapi nila-nilainya diaplikasikan dalam segala rana kehidupan.
Setelah saya renungkan dalam-dalam falsafah tersebut, saya menelusuri rekam jejak Gus Dur. Ternyata, sepak terjang tokoh yang saya kagumi dan dikagumi banyak orang itu cocok dengan tembang tersebut.
Saya pun sadar bahwa sosok cah angon yang selama ini dinati-nantikan banyak orang adalah tokoh yang paling populer abad ini, dialah Gus Dur. Gus Dur adalah aktor yang pantas menempati sosok “bocah angon” dalam tembang “Ilir-ilir” karya Kanjeng Sunan Kalijogo.
Pertanyaan yang selama ini menggelitik hati saya kini terjawab sudah. Semoga akan muncul cah angon-cah angon dan Gus Dur-Gus Dur baru di Indonesia, sehingga akan tercipta keseimbangan hidup di negara kita tercinta ini.
Semoga nilai-nilai yang selama ini diperjuangkan oleh cah angon Gus Dur dapat diteruskan generasi berikutnya sehingga gemah ripa loh jinawi yang ada di tanah Indonesia segera dirasakan nikmatnya oleh bangsa dan negara ini.
Penulis adalah Pimpinanan komunitas Lembah Pena “Endhut Ireng” Jombang

Ngidam



Ngidam
Oleh
Aang Fatihul Islam)*
(Diterbitkan di Kumcer “Hujan Sunyi Banaspati” Sehimpun Cerpenis Jombang)

Ribuan butiran air hujan menetes dari langit, pepohonan mengayun-ayunkan ranting-rantingnya. Dedaunan dan bebatuan menengadah ke atas langit  bermunajat pada Sang Pencipta atas apa yang telah terjadi di belahan bumi ini. Lekukan bumi mengendap-endap dalam fatamurgana yang teretas percikan-percikan api neraka yang merayap lewat desiran udara yang begitu menyengat. Burung-burung berkicau riuh dan nampak sumbang tidak seindah dulu lagi seakan ada perubahan atmosfir yang memekikkan kehidupan mereka. Alam seakan muak dengan hiruk pikuk yang melilit bumi dalam keangkuhan dan ketidaksenonohan yang terus terjadi dan terjadi. Desahan alam sudah tidak seindah dulu lagi, kamuflase demi kamuflase telah menutupi keindahan mereka dalam debu-debu kemunafikan dan kecongkakan. Kala itu eksotisme alam seakan hilang dan beruba menjadi nuansa duka.
Aku melihat para dalang memainkan perannya dan banyak wayang yang berparaskan Rahwana mempunyai misi untuk menculik keindahan alam yang kian hari kian redup. Keindahan suatu nilai seakan sudah tergantikan dengan uang. Idealisme kerap menjadi hilang tatkala uang bergelimpangan di mata. Sublimasi kehidupan yang kian pelik terkapar dalam bayang-bayang warna-warni pelangi kehidupan yang warna aslinya sudah  pudar. Sang Semar pun tiba-tiba menghilang dan keberadaanya tergantikan oleh para dewa yang suka berperilaku dholim pada para rakyat jelata. Tidak ada lagi dinamisasi di belahan bumi tatkala pemegang pengendali sudah tiada. Nilai-nilai yang diajarkan sang semar mulai redup dan butuh sepercik cahaya yang mampu menuntunnya ke jalan yang indah.
Suara-suara keadilan kerap keluar dari para sosok yang idealis akan tetapi suara-suara itu terdengar hampar dan klise. Tersimpan kebohongan di balik suara-suara itu. Aku berada di tengah-tengah sumber suara-suara itu berasal. Sekonyong-konyong ada suara kecil keluar dari salah satu gerombolan para demonstran itu. “Kalau saja tidak di kasih uang aku tidak mau berteriak-teriak dan berpanas-panasan di nawah terik matahari seperti ini. Biarlah kita terlihat sok idealis yang penting kita dapat uang hahaha, celoteh salah satu dari mereka. Rakyat kecil saja tidak mau mencoblos ketika ada pemilihan wakil rakyat tanpa adanya uang apalagi kita hahaha”.
Siang itu berlalu dan berganti menjadi petang. Kala  itu mendung hitam pekat diiringi letupan-letupan cahaya halilintar dan suara ledakan petir yang menyambar bagaikan cemeti raksasa yang disabetkan di atas awang-awang. Seliweran masyarakat Jambangan berlalu lalang mencari kebutuhan mereka sehari-hari. Yanto berjalan menuju pelataran halaman rumah Pak Kasdi dengan menggunakan payung dari kulit pohon pisang.
 “Tok…tok….tok…Pak Kasdi….?”
“ya silahkan masuk To (jawab Pak Kasdi)
“ ada yang bisa saya bantu To? (Tanya Pak Kasdi)
“begini Pak istri saya hamil dan ngidam ingin pisang raja apa Bapak ada?” (jawab Yanto). “Oh ya ada To”, “ngomong-ngomong soal ngidam aku  juga lagi ngidam To” (kata Pak Kasdi dengan nada agak nyengir)
Pak Kasdi ngidam apa?” (Tanya Yanto)
“aku ngidam ingin jadi orang kaya apakah kamu bisa bantu?” (sambil berfikir Anto lantas berkata)
“bisa Pak tapi Bapak harus mau korupsi hehe”
“apa itu korupsi To?” (Tanya Pak Kasdi)
“Korupsi itu memakan barang yang bukan haknya”.
 Oh itu ma gampang sudah setiap hari aku memakan barang yang bukan menjadi hakku hahaha” (sambil ketawa cengengesan).
Selang beberapa waktu Yanto minta pamit pada Pak Kasdi dan ingin menindak lanjuti keinginan Pak Kasdi dan juga keinginan Yanto yang sama-sama juga ngidam pingin jadi orang kaya. Hari berikutnya Yanto dan Pak Kasdi bersepakat untuk membikin usaha dan berjualan di “Pasar Korupmaju”. Mereka meminjam modal dari “Bank Sukurjadi”. Mereka meminjam uang sebanyak lima juta untuk modal awal dan supaya usaha mereka cepat berhasil mereka melakukan berbagai cara untuk mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya misalnya dengan melakukan ketidak jujuran dan penipuan.
“To beras ini supaya kita dapat keuntungan yang banyak dalam waktu singkat kita apakan ya? (Tanya Pak Kasdi)
“ gampang Pak kita masukin aja batu di dalamnya agar timbangannya bertambah berat, mantap kan ide saya?
“ oh ya pintar juga kamu To, tidak salah aku memilih kamu menjadi partnerku hahaha”.
Tapi lagi-lagi penyakit ngidam turun temurun dari rakyat kecil seperti Yanto dan Kasdi yang ngidam ingi jadi orang kaya dengan melakukan ketidak jujuran. Penyakit ngidam pun juga merambah pada Aparat Desa Ngawursari. Ini terlihat ketika Yanto dan Kasdi minta surat keterangan penghasilan dan surat keterangan penduduk Aparat Desa dengan nyantainya ia ngomong pada mereka berdua.
“Kalau kalian ngidam pingin jadi orang kaya aku pun juga sama haha. Maka supaya penyakit ngidam kita berimbang maka kamu harus membayar sejumlah uang buat sumbangan pribadi dompet saya haha.”
“Baiklah Pak kita juga ngerti kok, tali raffia tali sepatu, sesama mafia harus bersatu ha..ha..ha…”.(jawab Yanto dan Kasdi cengengesan)
Keesokan harinya Yanto dan Kasdi berangkat ke pasar dan melanjutkan kemafiaannya dengan korupsi kecil-kecilan bahasa orang kecilnya. Hari demi hari berlalu,Yanto dan Kasdi menjadi saudagar kaya raya dan kebiasaannya makin menjadi-jadi. Setelah mereka kaya mereka pun ngidam lagi pingin menjadi orang atas. Yanto ingin jadi kepala Desa sedangkan kasdi ingin jadi Caleg. Keduanya pun melakukan aksinya lagi dengan memberikan sejumlah uang sogokan pada masyarakat agar mereka dipilih. Ya hari gini masyarakat sudah semakin tidak percaya lagi terhadap wakil rakyat. Yang dipilih ya yang ngasih uang bukan yang Cuma modal kepercayaan, sudah tidak zamannya lagi.
Setelah kurang lebih dua minggu pemilihan pun dilaksanakan baik pemilihan Kades maupun pemilihan Caleg walaupun waktunya tidak sama. Tim sukses pun melancarkan aksinya untuk melakukan advokasi  terhadap rakyat kecil yang tidak mengerti apa-apa. Rakyat kecil pun tergiur dengan serbuan uang-uang yang diberikan pada mereka dengan bermodal uang hasil korupsi kecil-kecilan yang waktu demi waktu menjadi modal untuk dapat melakukan korupsi gede-gedehan. Entah ngidam apa lagi yang ada dalam otak mereka berdua? Apakah ngidam yang lebih besar lagi yaitu ingin menjadi orang kaya dengan cara yang lebih professional dengan cara mengeruk uang rakyat setelah mereka jadi wakil rakyat.
“Ya untuk jadi wakil rakyat harus mengeluarkan banyak uang. Jadi wakil rakyat tidak bisa dengan  modal dengkul jadi ketika jadi wakil rakyat minimal kembali modal lah, ha…ha…ha…”. (Itulah celoteh mereka ketika berbincang satu sama lain).
Langit senja nampak kebiruan dengan mega mendung mengapung di bawahnya, melayang-layang di angkasa seperti penggambaran kayangan yang ada dalam cerita dewa-dewa. Aku begitu resah dalam suasana yang tidak karuan. Pandanganku terasa begitu gelap dikelilingi hawa panas mengendap-endap dalam atmosfer udara. Aku memberanikan diri secara diam-diam berkelilinhg desa sambil melihat situasi perkembangan politik pemilihan Kades dan juga pemilihan Caleg. Lagi-lagi situasi janggal yang ia temui. Nampak para pengidam jabatan sedang memperjual belikan kekuasaan. Demi kekuasaan dan kedudukan mereka rela mengeluarkan banyak modal untuk mengeruk modal lebih banyak lagi dari rakyat. “Ya itulah penyakit lama para pemimpin kita dari masa ke masa terus di warisi ehm…..” (gerutu hati Slam jengkel).
Setelah pemilihan usai akhirnya Pak Yanto dan Pak Kasdi jadi wakil rakyat juga dan mereka merayakan kekuasaannya dengan mengundang penyanyi dangdut terkenal, pesta pun di gelar di depan rumah sambil mabuk-mabukan. Mereka merasa sukses ngidam menjadi orang kaya yang lebih professional. Bedanya kalau dulu ngidamnya ingin jadi kaya dengan korupsi kecil-kecilan, tapi sekarang bisa korupsi gede-gedehan. Sunnguh pucuk dicita ulam tiba, apa yang mereka inginkan telah terkabul. Mereka merasa puas dengan semua itu. Aku semakin merasa  gusar ketika melihat para pemimpin di negeri ini berperilaku seperti para cukong yang mengangkang dan memanfaatkan rakyat kecil yang tidak mengerti realita politik yang begitu kejam dan hitam pekat.
Yang menyedihkan lagi diantara para calon wakil rakyat yang tidak terpilih banyak yang stress, ada yang gila mendadak dengan mencopot pakaian sambil berteriak, ada yang meluapkan kekecewaan mereka pada kenyataan dengan mabuk-mabukan. “Beginikah mentalitas dan moral para pemimpin kita? Sungguh menyebalkan” (gerutuku). Aku pun muak dengan realitas yang begitu buram dan penuh dengan ketidak jelasan. Para penghuni langit lebih suka mencipratkan nanah dan darah ke bumi daripada hujan. Padahal penghuni bumi kekeringan. Yang mereka butuhkan saat ini bukan nanah dan darah tapi siraman air hujan.
Bulan berikutnya Aku berjalan lagi menelusuri kota Subahaya menyaksikan pemilihan Caleg, Wali kota dan juga pemilihan Gubernur setahap demi setahap. Ia perhatikan gerak gerik mereka dari kejauhan tapi nyatanya tidak ada bedanya. Orang-orang yang idealis ketika sudah masuk dalam rantai politik maka idealisme itu akan tergerus arus dan hilang. “Itulah politik kita ketika sudah masuk dalam lingkaran politik maka mau tidak mau harus tunduk pada sistem lama yang sudah mengepidemi kuat atau dibuang dari peredaran. Entah sampai kapan rantai itu dapat di putus untuk mendapatkan rantai baru lewat revolusi” (Hati Slam berbisik tajam).
Keindahan idealisme yang bergema di atas awang-awang tiba-tiba dilululantahkan oleh rantai emas raksasa yang berjalan bersama sistem politik yang begitu kuat. Dinding-dinding  pertahanan idealisme runtuh begitu saja tergilas arus. Penyakit ngidam yang mengepidemi kuat secara turun temurun dari dulu sampai sekarang pun menjadi salah satu kekuatan dahsyat yang membantu rantai itu untuk memusnakan keindaan-keindahan itu. Logika pun sudah tergadaikan dengan sistem yang membungkam dalam sangkar emas. Burung-burung sudah enggan keluar dari sangkar emasnya. Karena mereka merasa akan makan apa ketika keluar dari sangkar emas yang di sana mendapatkan fasilitas yang memadai walau pun tidak bebas berfikir.
Sang juragan berkata “wahai burung-burungku keluarlah kalian dari sangkar emas ini, dapatkan kebebasan di alam bebas sana”,
Jawab para burung-burung “jangan tuan kita tidak mau dilepaskan dari sangkar emas ini, lalu kami makan apa di luar sana, banyak binatang buas yang mengincar kami, kami juga takut dengan hembusan badai yang kerap datang dalam kegelapan”.
Tuan itu kembali berkata “di luar sana kamu akan mendapatkan kebebasan sebebas-bebasnya, maka keluarlah kalian mumpung aku belum berubah pikiran”.
Burung-burung itu pun menjawab “Tidak tuan kami lebih suka di dalam sangkar ini, walau pun kami tidak mendapatkan kebebasan yang sesungguhnya, namun fasilitas yng tuan berikan untuk kami.”
Kita lebih senang menjadi burung-burung yang berada di dalam sangkar yang terbuat dari emas. Walau pun terbuat dari emas akan tetapi itu tetap sangkar yang memenjarakan kebebasan kita. Tapi kebanyakan dari kita lebih memilih sangkar emas itu yang penting tetap bisa makan. Yang terpenting bukanlah kebebasan akan tetapi yang bisa menjamin kita untuk makan. Sebuah analogi yang begitu nista tatkala itu bertabrakan dengan alam pikiran kita. Apaka otak yang diberikan Tuhan kepada kita sudah menjadi aksesoris saja ketika realitas bergelimpangan di mana-mana. Ketika realitas tidak sehat ada di sekitar kita. Ketika para penghuni langit berkata “kami punya maksud baik”, maka kita pun harus bertanya “maksud baik tuan untuk siapa?”
Penyakit ngidam sudah mendarah daging mulai dari kelas bawah sampai pada kelas atas. Penyakit ngidam akan terus berjalan dan begitu kuat dikala varian-variannya masih terus lahir dan beranak pinang begitu menjamur. Putaran roda penyakit ngidam yang tidak fair akan terus ada dan sampai kapan itu terjadi semuanya tergantung pada manusia yang menghuni penggalan surga ini. Penggalan surga yang telah tidak kita syukuri keberadaannya sebagai suatu anugerah Tuhan yang sangat bernilai harganya.
Dalam kesendirian tiba-tiba aku mendengar seliweran orang berlalu lalang sambil tertawa berkata “siapa yang ngidam bisa lihat brosur ini. Kita belajar bersama untuk melestarikan ngidam. Kita belajar bersama untuk menjadikan ngidam sebagai kepercayaan kita. Kita jadikan ngidam sebagai sumber pengidupan kita. Ngidam……ngidam…..ngidam….., beli satu dapat seribu manfaat hahaha.” Aku pun lari sekencang-kencangnya menuju tengah hutan untuk menghindari suara yang menyebalkan itu.

Jombang, 04 September 2010


ekuatan Karya Sastra dan Rekonstruksi Perubahan Masyarakat Jombang



Kekuatan Karya Sastra dan Rekonstruksi Perubahan Masyarakat Jombang
Oleh
Aang Fatihul Islam)*
(Diterbitkan di Jurnal Jombangana kolom Essai Sastra Dekajo Komite Sastra Edisi ke-2)


Karya sastra merupakan letupan puing-puing mahakarya yang dieksekusi lewat suara-suara masyarakat. Barangkali itu merupakan ungkapan yang tepat untuk mengapresiasi kekaguman saya pada karya sastra. Ketika banyak digembor-gemborkan istilah agen perubahan (agen of change) di tengah-tengah  Mahasiswa dari zaman orde lama hingga kini, maka saya disini ingin menguak sebuah agen of change yang berkaitan dengan karya sastra. Seringkali karya sastra dianggap sesuatu yang fiksi belaka dan apa yang dituangkan di dalamnya adalah hanya bualan sang pengarang saja. Benarkah karya sastra hanya berfungsi sebagai hiburan semata? Ada yang mengatakan karya sastra merupakan reportase realitas masyarakat yang dituangkan dalam keindahan kata-kata. Karya sastra adalah mediasi antara fakta dan fiksionalitas. Maka adakah keterkaitan antara karya sastra dengan perubahan masyarakat?
Ada beberapa literatur yang bisa kita pakai sebuah acuan bahwa memang karya sastra ada keterkaiatannya dengan kehidupan masyarakat antara lain; De Bonald dalam Buku “Theory of Literature” (1949:110) mengatakan bahwa sastra adalah ungkapan perasaan masyarakat (literature is an expression of society) maka karya sastra adalah merupakan luapan hati masyarakat yang terwakili lewat rajutan sebuah tulisan. Begitu juga Hegel dan Taine (1949: 111) mengatakan bahwa kebesaran sejarah identik dengan kehebatan artistik melalui karya sastranya, sastrawan menyampaikan kebenaran sejarah dan kebenaran sosial, karya sastra merupakan dokumen (sejarah) dan karena itu, merupakan menumen (documents because they are monuments).
Ada tiga hal yang bisa juga dijadikan acuan antara keterkaitan karya sastra dengan masyarakat ini berkaitan dengan hubungan deskriptif (bukan normative) antara sastra dan masyarakat, antara lain: pertama: sosiologi pengarang, profesi pengarang, institusi sastra (Status pengarang dan ideologi pengarang yang terlihat dari berbagai kegiatan pengarang di luar karya sastra), kedua: isi karya sastra, tujuan karya sastra, hal-hal lain yang tersirat dalam karya sastra dan berkaitan dengan masalah sosial, ketiga: persoalan pembaca dan dampak sosial karya sastra. atau secara sederhana intinya tiga butir di atas: sosiologi pengarang, isi karya sastra yang bersifat sosial, dan dampak sastra terhadap masyarakat.
Dalam keterkaitan karya sastra dengan realitas masyarakat, salah satu kritikus sastra Indonesia, H.B Jassin pernah menyampaikan kerinduhannya pada karya sastra Indonesia: “ Bagi para pengarang sungguh masih banyak daerah yang belum dijelajah. Untuk menyebutkan beberapa contoh; kehidupan penyelam mutiara di sebelah timur kepulauan kita, kehidupan di tambang-tambang minyak dan batu bara, kehidupan suku bangsa yang terpencil jauh di pedalaman seperti pegunungan Kalimantan, kehidupan para nelayan mencari nafkah di tengah laut, alam dunia juru terbang yang kini mengarungi udara kita, kita tidak kehabisan bahan dan persoalan”. Demikian uraian H.B Jassin seperti yang dikutip A.A Navis dalam majalah sastra dan budaya Horison Edisi Januari 1994, halaman 9.
Karya sastra adalah realitas bumi dan masyarakat yang direkam dan dirajut dalam keindahan bahasa. Maka dalam memasukkan nilai-nilai di dalamnya pengarang punya jurus jitu dalam memikat para pembaca untuk membaca dan secara tidak langsung misi pengarang akan merasuk dalam otak para pembaca. Di sini pembaca akan melakukan pengembaraan wacana terhadap karya sastra, yang pada akhirnya mereka terinfeksi virus-virus wacana dan sedikit demi sedikit mereka akan banyak melihat realitas lewat keindahan bahasa karya sastra. Inilah bedanya karya sastra dengan liputan berita yang dalam penyuguhannya terkesan lugas dan formal . tapi karya sastra menyuguhkan gambaran realitas lewat rajutan kata yang begitu indah, sehinggah disamping terhibur pembaca juga akan mendapatkan banyak nilai dan pesan di dalamnya.
Menurut Budi Darma para sastrawan dalam menuliskan karyanya punya dua hal, yaitu Worldview (pandangan terhadap dunia) dan Weltanschauung (misi/tujuan merombak masyarakat) Maka para para penggiat sastra dapat berperan disini yaitu menuangkan kegelisahannya dan misinya lewat karya sastra. Sebagaimana Pramudya Ananta Toer yang menuliskan kegelisahannya dan menuliskan misinya lewat Novelnya “Bumi dan Manusia”, Jejak Langka, Anak Semua Bangsa, dan Rumah Kaca, W.S. Rendra menyuarakan kegelisahannya dan misinya yang meledak-ledak lewat puisi-puisinya, misalnya “Sajak Sebatang Lisong”, dan “Yang Muda yang Bercinta”, N.H Dini menyuarakan kegelisahannya dan misinya lewat novelmnya “Salah Asuhan”, Budi Darma menyuarakan kegelisahan dan misinya lewat novelnya “ Olenka”, Bustan Maras Mandar menyuarakan kegelisahannya misinya lewat cerpennya “Ziarah Mandar” , para sastrawan Jombang seperti Emha Ainun Nadjib,Fahrudin Nasrulloh, Sabrank Suparno, M.S. Nugroho dan lain-lain yang mulai bermunculan  di Jombang  telah melukisakan realitas lewat karya-karyanya yang indah . Itulah manifesatasi dari para sastrawan yang menjadi obor penerang bagi bumi yang mulai gelap pekat ini. Karya mereka mampu menjadi percikan-percikan kecil yang merayap dan menjadi kekuatan besar dalam merubah paradigma dan perilaku masyarakat.
Ada banyak hal yang bisa kita dapatkan dalam silaturrahmi wacana secara tidak langsung  dengan pengarangnya (meminjam bahasa Lang Fang). Misalnya di dalam novel-novelnya Parmudya Ananta Toer  “Gadis Pantai” kita bisa menemukan banyak nilai budaya, “Bumi Manusia, Jejak Langkah, Anak Semua Bangsa, Rumah Kaca kita bisa menemukan gambaran  situasi  politik, nilai sejarah,  dan rekaman realisme soial. Novelnya Lang Fang  misalnya “Ciuman di Bawah Hujan, Perempuan Kembang Jepun” kita bisa temukan pesan politik, budaya, dan gender. Budi Darma dalam “Olenka, Orang-Orang Blomington, Rafilus, Solilokui, Harmonium dan lain-lain” kita bisa juga temukan nilai realsime sosial, budaya, nilai moral, psikologi. Novel Andrea Hirata di dalam “Tetralogi Laskar Pelangi” kita bisa temukan nilai budaya, pesan moral, realisme sosial dan semangat hidup dalam menggapai mimpi-mimpinya. Sekarang kita coba merambah pada para sastrawan asal Jombang yang sedang menngeliat karya-karya mereka kebanyakan adalah memberikan gambaran realitas masyarakat Jombang  yang berisi banyak pesan baik budaya, moral, realisme sosial, dan sebagainya baik yang tertuang lewat Novel, cerpen mau pun puisi. Ini sebenarnya adalah embrio kekuatan-kekuatan dahsyat yang mampu merekonstruksi perubahan masyarakat Jombang.
Lewat karya-karya sastra selain pembaca terhibur dan medapatkan manfaat dari apa yang dibacanya (ulce de at utile), mereka juga secara  tidak langsung akan mengenyam nilai dan pesan yang ada di dalam karya sastra tersebut. Karena bagaimanapun juga di dalam karya sastra ada banyak nilai misalnya nilai budaya, ajaran moral, falsafah kehidupan, sejarah, psikologi, realism sosial dan sebagainya yang kesemuanya itu tercermin dalam karya sastra atau sering di sebut sebagai mimesis. Mimesis merupakan realita yang ada di masyarakat yang tercermin dalam karya sastra. Mimesis ini dapat kita temui pada buku “Tentang Sastra” karya Lexemburg (1991: 15). Mimesis mulai ada sejak zaman filsuf Plato dan muridnya Aristoteles. Nilai-nilai yang merupakan cerminan dari realita (memesis) inilah yang kemudian diramu dengan indah oleh pengarang dalam sebuah pertemuan antara realitas dengan fiksionalitas, maka jadilah karya sastra.
Warren (1949: 14) menguraikan bahwa Salah satu batasan “sastra” adalah segala sesuatu yang tertulis atau tercetak. “literature” berasal dari kata Latin litera/huruf) seharusnya sastra lisan juga termasuk sastra, tapi karena sudah sejak lama sastra lisan di Barat ditulis menjadi sastra cetak, maka pandangan Barat mengenai “sastra” berbeda dengan pandangan kita/karena kebanyakan sastra lisan kita belum dicetak. Sastra lisan di Barat sudah banyak yang dicetak atau disadur, seperti misalnya Romeo dan Juliet karya Shakespeare adalah saduran dari sastra lisan Itali, dan Doctor Faustus karya Goethe adalah saduran dari sastra lisan Jerman.
Karena sastra adalah sesuatu yang tertulis atau tercetak, maka semua hal yang tertulis dan tercetak dapat juga menjadi objek ilmu-ilmu lain, sepanjang ilmu-ilmu itu juga sudah ditulis atau dicetak. Ilmuwan sastra dapat mempelajari “profesi kedokteran. Pada abad ke-14,” “gerakan planet di Abad Pertengahan,” atau “Ilmu sihir di Inggris dan New England.” Ilmuwan sastra “tidak terbatas pada belles letters”, dan karena itu kerja ilmuwan sastra harus dilihat dari “sumbangannya pada sejarah kebudayaan.” Hal ini dapat juga dilihat dari tokoh Rusia misalnya, Churcil yang pidatonya indah dan mampu menginspirasi para serdadu untuk bangkit melawan musuh, begitu juga Betran Russel, seorang Filsuf dan ahli matematika, essa-essainya indah dan tidak pernah menulis fiksi. Akan tetapi keduanya telah mendapatkan nobel sastrawan dunia.
Menurut Greenlaw, studi sastra bukan hanya berkaitan erat, tapi identik dengan sejarah kebudayaan. Warren (1949:12) menambahkan bahwa kalau Greenlaw benar, maka “studi sastra” menjadi kabur, karena studi sastra adalah sebuah studi khusus dengan metode-metodenya sendiri yang tidak sama dengan metode-metode cabang-cabang ilmn pengetahuan lain. Buku-buku sejarah, filsafat, atau ilmu pengetahuan lain sebetulnya bukan karya sastra, tapi ada juga buku-buku itu yang “karya yang berniali sastra,” tapi bukan karya sastra. Memang banyak sejarawan sastra memasukkan karya-karya ahli filsafat, sejarawan, ahli teologi dan moral, politikus dan ilmuwan dalam pembahasan, karena sastra pada hakikatnya adalah dunia pemikiran, dan cabang-cabang ilmu lain adalah juga dunia pemikiran.
Kalau Budi Darma menggambarkan Olenka dalam novelnya seperti Peta, maka karya sastra adalah peta heterogenitas realiatas masyarakat. Kita bisa melihat sudut-sudut fenomena sosial, sejarah dan budaya dalam karya sastra. Ada sebuah analogi yang bisa dijadikan motivator kita dalam mengapresiasi karya sastra. Di barat banyak tokoh-tokoh yang berlatar belakang non -sastra akan tetapi pada akhirnya menjadi sastrawan karena berawal dari membaca karya sastra. Tokoh-tkoh itu antara lain Claude Levir Straus (bidang studi antropologi), Roland Barthes (bidang studyi sastra), Michael Faoucault (bidang studi Sejarah), Jacques Lacan (bidang studi Psikiater), Sigmund Freud (Ahli Kedokteran) dan sebagainya. Walaupun kebanyakan dari mereka berasal dari latar belakang non-sastra akan tetapi pada akhirnya mereka menjadi sastrawan yang hebat-hebat dengan mengembangkan latar belakang mereka lewat karya sastra, sehingga di dalam karya sastra akan ada nilai antropologi, sejarah, psikologi, kesehatan dan sebagainya. Sigmund Freud bisa menciptakan treori psikoanalitik karena membaca karya sastra yang berisi psikologi, di sanalah Sigmund Freud mempelajari psikologi masyarakat dan tercipalah teori psikoanalitik. Begitu juga tokoh-tokoh yang lain juga mendapatkan sesuatu yang baru dari membaca karya sastra.
Hipotes penulis kalau para politikus, pemerintah, sejarawan, budayawan, dokter, guru, mahasiswa, karyawan, tukang becak dan kaum miskin kota dan bagian dari masyarakat lainnya yang ada di belahan bumi Jombang mau membaca karya sastra maka mereka akan kaya dengan nilai yang di dapatkan dalam karya sastra. Mereka akan mampu menembus keburaman akan realitas yang selama ini mengungkung mereka. Dengan membaca karya sastra sedikit demi sedikit paradigma dan kesadaran mereka akan realita akan terbuka. Ketika tabir yang selama ini menutupi mata hai mereka maka akan terjadi balancing antara elemen satu dengan yang lainnya. Inilah yang kemudian dinamakan dengan perubahan masyarakat. Karena sebenarnya sastrawan itu direkonstruksi oleh lingkungan dan masyarakatnya, kemudian masyarakat sendiri direkonstruksi oleh sastrawan lewat karya-karyanya.
Penulis percaya bahwa di dalam rajutan kata-kata ada sebuah kekuatan dahsyat yang mampu menggerakkan siapa saja yang membacanya. Sebagaimana rajutan kata-kata indah ayat-ayat suci Al-Qur’an di dalamnya mempunyai kekuatan yang luar biasa. Rajutan kata-kata dalam karya sastra pun tidak lepas dari manifestasi uraian keindahan ayat Al-Qur’an dalam konteks Islam, di dalamnya juga di selipkan suara gress root (arus bawah), yang oleh Pram di gambarkan lewat bukunya Realisme Sosial (2003: 34) yang mana dalam karya sastra ada upaya dalam memperjuangkan kelas Proletar (raykat bawah/kaum tertindas). Sebagaimana yang terdapat di dalam penggalan Surat Al-Ashr ayat (1) “ Wal Ashri Innal Insana Lafi Khusrin Illal Ladzina Amanu Wa’amilus Sholihati” yang berarti bahwa sesuangguhnya manusia telah benar-benar dalam keadaan merugi, kecuali orang yang beriman dan juga beramal sholeh. Saya ingin menggaris bawahi kata “Wa’amilush Sholihati” (beramal sholeh), yang bisa diartikan memperjuangkan kaum tertindas. Jadi di dalam beramal sholeh harus senantiasa memihak kaum tertindas dan memperjuangkan keadilan.
Dari pemaparan di atas, dapat diketahui bahwa bukan hanya para cendekiawan, aktivis dan intelektual saja yang dapat melakukan perubahan terhadap masyarakat, akan tetapi para sastrawan lewat ketajaman hati dan kecerdasan berfikir (meminjam Bahasa Prof. Febiola D. Kurnia) juga telah memberikan sumbangsih pemikiran yang cukup signifikan lewat karya sastra dalam melakukan perubahan terhadap masyarakat. Di sini yang perlu di garis bawahi adalah realitas masyarakat terekam secara rapi dalam karya sastra. Jadi karya satra telah mampu mempersuasi masyarakat untuk melihat realitas secara bijaksana tidak hanya pada kulit luarnya. Berapa persen kadar persuasi tersebut adalah tidak lepas dari seberapa kuat sinyal gelombang membaca yang mampu pembaca tangkap di dalam karya sastra tersebut. Semoga karya sastra yang mulai bertebaran  di Jombang pada khususnya dan di belahan bumi pada umumnya mampu memberikan sumbangsih pemikiran yang signifakan dalam  merekonstruksi perubahan paradigma masyarakat yang primitif di zaman moden ini. Amin.
Penulis adalah aktifis Komunitas Lembah Pena “Endhut Ireng” Jombang*